Prediksi BMKG: Gempa Filipina Picu Tsunami di Indonesia, Warga Pesisir Diminta Tetap Waspada
Jakarta, 9 Juni 2026 – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini tsunami setelah gempa bumi kuat berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6). Guncangan tersebut memicu gelombang tsunami yang terdeteksi di sejumlah wilayah Indonesia bagian timur, khususnya di kawasan Sulawesi Utara dan sekitarnya.
Menurut BMKG, gempa terjadi pada kedalaman sekitar 47 kilometer dan berpusat di wilayah laut dekat Mindanao. Aktivitas tektonik tersebut berasal dari zona subduksi di kawasan Filipina yang dikenal memiliki tingkat kegempaan tinggi. Akibat gempa besar itu, BMKG segera menerbitkan peringatan dini tsunami untuk beberapa wilayah pesisir Indonesia yang berpotensi terdampak.
BMKG mencatat gelombang tsunami dengan ketinggian bervariasi teramati di sejumlah lokasi di Indonesia. Meskipun sebagian besar gelombang tergolong kecil, masyarakat di kawasan pesisir tetap diminta menjauhi pantai dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah serta petugas kebencanaan.
Dampak gempa dan tsunami juga dirasakan di wilayah Sulawesi Utara. Sejumlah bangunan dilaporkan mengalami kerusakan ringan hingga berat, sementara warga di beberapa daerah memilih mengungsi ke dataran yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi. Data sementara menunjukkan puluhan bangunan terdampak akibat guncangan gempa yang cukup kuat.
BMKG menegaskan bahwa gempa yang terjadi di Filipina ini bukan berasal dari zona megathrust Indonesia, melainkan dari sistem tektonik aktif di kawasan Filipina. Kendati demikian, posisi geografis Indonesia yang berdekatan dengan pusat gempa menyebabkan sejumlah wilayah pesisir tetap berpotensi mengalami dampak tsunami.
Setelah melakukan pemantauan intensif terhadap muka air laut dan aktivitas seismik, BMKG akhirnya mengakhiri status peringatan dini tsunami pada pukul 10.15 WIB. Lembaga tersebut menyatakan kondisi laut telah kembali stabil dan ancaman tsunami telah berakhir. Namun masyarakat tetap diminta mewaspadai kemungkinan gempa susulan yang masih dapat terjadi.
Hingga Senin malam, BMKG mencatat lebih dari 20 gempa susulan pascagempa utama. Meski sebagian besar berkekuatan lebih kecil, aktivitas tersebut menunjukkan bahwa proses penyesuaian tektonik masih berlangsung di kawasan sumber gempa.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Informasi resmi terkait gempa bumi dan tsunami dapat diperoleh melalui aplikasi resmi Info BMKG.
Kesimpulan
Peristiwa gempa magnitudo 7,7 di Filipina menjadi pengingat bahwa aktivitas tektonik di kawasan Pasifik dapat memberikan dampak lintas negara, termasuk Indonesia. Meskipun peringatan tsunami telah dicabut, kewaspadaan masyarakat terhadap potensi gempa susulan dan ancaman bencana alam tetap menjadi hal yang penting untuk dilakukan.
Sumber :
- BMKG
