Header Ads

Breaking News

Presiden Belarus Alexander Lukashenko, menyebut AS mustahil mengalahkan China dalam sekenario perang terbuka

Belarus - Presiden Alexander Lukashenko kembali menarik perhatian dunia internasional setelah pernyataannya mengenai dinamika kekuatan global antara Amerika Serikat dan China. Dalam komentarnya, Lukashenko menyebut bahwa Amerika Serikat “mustahil” mengalahkan China dalam skenario perang terbuka, sebuah klaim yang memicu perdebatan luas di kalangan analis geopolitik.


Sebagai pemimpin Belarus yang dikenal vokal dan sering mengkritik Barat, Lukashenko menilai keseimbangan kekuatan global telah berubah secara signifikan dalam dua dekade terakhir. Menurutnya, China tidak hanya unggul dalam jumlah sumber daya manusia, tetapi juga telah berkembang pesat dalam teknologi militer, industri, dan kemampuan logistik. Faktor-faktor penting dalam konflik berskala besar.


Lukashenko berargumen bahwa dalam perang terbuka, skala ekonomi dan kapasitas produksi China akan menjadi keunggulan utama. Ia menyoroti bagaimana Beijing mampu memobilisasi industri dalam jumlah besar untuk mendukung kebutuhan militer, sesuatu yang menurutnya sulit ditandingi oleh Amerika Serikat dalam jangka panjang. Selain itu, ia juga menyebut kedalaman wilayah geografis China sebagai keuntungan strategis yang signifikan.


Pernyataan ini juga mencerminkan pandangan yang lebih luas di antara sejumlah sekutu Rusia dan negara-negara yang skeptis terhadap dominasi Barat. Mereka melihat kebangkitan China sebagai penyeimbang terhadap pengaruh global Amerika Serikat. Namun demikian, banyak analis Barat tidak sepakat dengan pandangan Lukashenko. Mereka menekankan bahwa Amerika Serikat masih memiliki keunggulan dalam aliansi militer global, teknologi mutakhir, serta pengalaman tempur yang luas.


Selain itu, konsep “perang terbuka” antara dua kekuatan nuklir seperti AS dan China sering dianggap sebagai skenario yang sangat tidak realistis, mengingat risiko kehancuran global yang sangat besar. Banyak pakar menilai bahwa konflik antara kedua negara lebih mungkin terjadi dalam bentuk persaingan ekonomi, teknologi, dan pengaruh geopolitik, bukan konfrontasi militer langsung.


Pernyataan Lukashenko pada akhirnya mencerminkan meningkatnya ketegangan dalam tatanan dunia multipolar yang sedang terbentuk. Dengan China yang terus menguat dan Amerika Serikat yang berupaya mempertahankan posisinya, perdebatan mengenai siapa yang lebih unggul kemungkinan akan terus menjadi isu utama dalam diskursus geopolitik global.



(*)