Biaya Naik, Harga Kopi Turun: Intervensi DPRD Lampung Barat Terhadap Petani Lampung Barat Di Pertanyakan
Lampung barat - Kondisi petani kopi di Lampung Barat kian memprihatinkan. Di saat harga kopi terus mengalami penurunan, peran DPRD justru dinilai belum hadir secara maksimal. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: di mana intervensi DPRD ketika petani sebagai tulang punggung sektor perkebunan sedang terjepit?
Di satu sisi, harga pupuk melambung, ongkos tenaga kerja meningkat, dan BBM terus naik tanpa kompromi. Setiap tahap perawatan kebun kini menuntut biaya lebih besar. Menanam kopi bukan lagi soal ketekunan, tapi soal kemampuan bertahan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin tidak masuk akal.
Namun di sisi lain, harga kopi justru anjlok. Hasil panen yang seharusnya menjadi sumber penghidupan kini dihargai rendah, bahkan sering kali tidak sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan. Petani bekerja lebih keras, mengeluarkan lebih banyak uang, tapi hasilnya justru semakin kecil.
Ini bukan sekadar ketimpangan, ini ketidakadilan yang nyata.
Situasi ini menempatkan petani dalam posisi yang nyaris mustahil. Jika mereka terus merawat kebun, biaya akan terus membengkak. Jika mereka berhenti, kehilangan penghasilan jadi risiko berikutnya. Mereka seperti dipaksa memilih antara rugi perlahan atau jatuh seketika.
Yang membuat keadaan semakin menyakitkan adalah minimnya perlindungan. Tidak ada jaminan harga, tidak ada intervensi serius, dan tidak ada upaya nyata untuk menyeimbangkan beban yang ditanggung petani. Sementara itu, rantai distribusi tetap dikuasai oleh pihak-pihak yang dengan mudah menekan harga di tingkat petani.
Kenaikan biaya dan turunnya harga bukan terjadi secara alami semata. Ini juga mencerminkan lemahnya keberpihakan kebijakan. Ketika biaya produksi melonjak, seharusnya ada langkah untuk meringankan beban dan subsidi, kontrol harga input, atau dukungan langsung. Namun yang terjadi justru sebaliknya: petani dibiarkan menanggung semuanya sendiri.
Jika kondisi ini terus berlanjut, dampaknya tidak hanya pada ekonomi petani, tetapi juga pada keberlangsungan sektor kopi itu sendiri. Kebun akan ditinggalkan, produksi menurun, dan perlahan Lampung Barat bisa kehilangan salah satu identitas utamanya sebagai penghasil kopi.
Biaya naik, harga kopi turun dan ini bukan sekadar kondisi. Ini alarm keras bahwa ada yang salah dalam sistem. Dan jika tidak segera diperbaiki, yang hancur bukan hanya ekonomi petani, tapi juga masa depan mereka.
