Header Ads

Breaking News

Rupiah Tembus Rekor Terlemah Sepanjang Masa: Sentuh Rp 17.321 per Dolar AS




JAKARTA – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Mata uang Garuda sempat menembus rekor terlemahnya sepanjang sejarah di level Rp 17.321, melampaui titik terendah sebelumnya. Hingga penutupan pasar spot sore ini, Rupiah berakhir di level Rp 17.286, melemah 0,61% atau turun 105 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya.



Penyebab Utama Pelemahan


Kombinasi tekanan eksternal dan kekhawatiran domestik menjadi "badai sempurna" bagi mata uang nasional:

  1. Krisis Geopolitik Timur Tengah: Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat menangkap kapal tanker Iran di Selat Hormuz. Hal ini memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global dan membuat investor beralih ke aset aman (safe haven).

  2. Beban Impor Minyak: Harga minyak mentah dunia yang bertengger di atas 100 USD per barel memberikan tekanan besar pada neraca perdagangan Indonesia, mengingat kebutuhan impor minyak nasional mencapai 1,5 juta barel per hari.

  3. Sentimen Risiko Fiskal: Pasar mencermati potensi pelebaran defisit APBN 2026 hingga mendekati 2,9%. Laporan dari S&P Global dan Fitch Solutions menyoroti kerentanan fiskal Indonesia dibandingkan negara tetangga, yang memicu aliran modal keluar (capital outflow).

  4. Prediksi Suku Bunga AS: Adanya spekulasi pergantian pimpinan The Fed yang cenderung lebih hawkish (mendukung suku bunga tinggi) membuat Dolar AS terus perkasa di pasar global.



Respons Bank Indonesia


Bank Indonesia (BI) melalui Deputi Gubernur Senior, Destry Damayanti, menegaskan bahwa BI terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar spot, DNDF, maupun pasar SBN sekunder.

"Pergerakan Rupiah masih sejalan dengan pelemahan mata uang kawasan. Kami tetap hadir di pasar secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas di tengah ketidakpastian ini," ujar Destry (23/4).

 

Dampak pada Perekonomian


Analis memproyeksikan jika tren ini berlanjut, masyarakat akan segera merasakan dampaknya melalui:

  • Inflasi Barang Impor: Harga barang elektronik dan bahan baku industri akan merangkak naik.

  • Subsidi Energi: Tekanan pada anggaran pemerintah untuk menahan harga BBM agar tidak melonjak tajam.

  • Indeks Saham: IHSG juga ikut terdampak, ditutup anjlok 2,16% hari ini seiring aksi jual bersih investor asing mencapai Rp 978 miliar.



Analisis Singkat:


Pelemahan ini menempatkan Rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di Asia pada awal tahun 2026. Analis memproyeksikan untuk perdagangan besok, Jumat (24/4), Rupiah masih akan bergerak fluktuatif di rentang Rp 17.280 - Rp 17.340 per Dolar AS.



(*)